,
.
.

Senin, 20 Februari 2012

cerita maling kundang

MALIN KUNDANG 

Pada suatu waktu, hiduplah sebuah keluarga nelayan di 
pesisir pantai wilayah Sumatra. Keluarga tersebut terdiri 
dari ayah, ibu dan seorang anak laki-laki yang diberi nama 
Malin Kundang. Karena kondisi keuangan keluarga yang 
memprihatinkan, sang ayah memutuskan untuk mencari 
nafkah di negeri seberang dengan mengarungi lautan yang 
luas.
Maka tinggallah si Malin dan ibunya di gubug mereka. Seminggu, dua minggu, sebulan, dua 
bulan bahkan sudah 1 tahun lebih lamanya, ayah Malin tidak juga kembali ke kampung 
halamannya. Sehingga ibunya harus menggantikan posisi ayah Malin untuk mencari nafkah. 
Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan 
memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung 
batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya 
dan tidak bisa hilang. 

Setelah beranjak dewasa, Malin Kundang merasa kasihan dengan ibunya yang banting 
tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Ia berpikir untuk mencari nafkah di 
negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah 
menjadi seorang yang kaya raya. Malin tertarik dengan ajakan seorang nakhoda kapal 
dagang yang dulunya miskin sekarang sudah menjadi seorang yang kaya raya. 

Malin kundang mengutarakan maksudnya kepada ibunya. Ibunya semula kurang setuju 
dengan maksud Malin Kundang, tetapi karena Malin terus mendesak, Ibu Malin Kundang 
akhirnya menyetujuinya walau dengan berat hati. Setelah mempersiapkan bekal dan 
perlengkapan secukupnya, Malin segera menuju ke dermaga dengan diantar oleh ibunya. 
"Anakku, jika engkau sudah berhasil dan menjadi orang yang berkecukupan, jangan kau 
lupa dengan ibumu dan kampung halamannu ini, nak", ujar Ibu Malin Kundang sambil 
berlinang air mata. 

Kapal yang dinaiki Malin semakin lama semakin jauh dengan diiringi lambaian tangan Ibu 
Malin Kundang. Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu 
pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman. Di tengah perjalanan, tiba-
tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan 
para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar 
awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin 
Kundang sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut, karena ketika 
peristiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh 
kayu. 

Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya 
terdampar di sebuah pantai. Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju 
ke desa yang terdekat dari pantai. Sesampainya di desa tersebut, Malin Kundang ditolong 

0 komentar

Posting Komentar