,
.
.

Senin, 20 Februari 2012

TIMUN EMAS

TIMUN EMAS 

Mbok Sirni namanya, ia seorang janda yang menginginkan seorang anak agar dapat 
membantunya bekerja. Suatu hari ia didatangi oleh raksasa yang ingin memberi seorang 
anak dengan syarat apabila anak itu berusia enam tahun harus diserahkan ke 
raksasa itu untuk disantap. Mbok Sirnipun setuju. 
Raksasa memberinya biji mentimun agar ditanam dan 
dirawat. Setelah dua minggu diantara buah ketimun 
yang ditanamnya ada satu yang paling besar dan 
berkilau seperti emas. Kemudian Mbok Sirni 
membelah buah itu dengan hati-hati. Ternyata isinya 
seorang bayi cantik yang diberi nama Timun Emas.
Semakin hari Timun Emas tumbuh menjadi gadis jelita. Suatu hari datanglah raksasa 
untuk menagih janji. Mbok Sirni amat takut kehilangan Timun Emas, dia mengulur janji 
agar raksasa datang 2 tahun lagi, karena semakin dewasa, semakin enak untuk disantap, 
raksasa pun setuju. Mbok Sirnipun semakin sayang pada Timun Emas, setiap kali ia 
teringat akan janinya hatinyapun menjadi cemas dan sedih. 

                          Suatu malam Mbok Sirni bermimpi, agar anaknya 
                          selamat ia harus menemui petapa di Gunung Gundul. 
                          Paginya ia langsung pergi. Di Gunung Gundul ia bertemu 
                          seorang petapa yang memberinya 4 buah bungkusan 
                          kecil, yaitu biji mentimun, jarum, garam, dan terasi 
                          sebagai penangkal. Sesampainya di rumah diberikannya 
                          4 bungkusan tadi kepada Timun Emas, dan disuruhnya 
                          Timun Emas berdoa.
Paginya raksasa datang lagi untuk menagih janji. Timun Emaspun disuruh keluar lewat 
pintu belakang oleh Mbok Sirni. Raksasapun mengejarnya. Timun Emaspun teringat akan 
bungkusannya, maka ditebarnya biji mentimun. Sungguh ajaib, hutan menjadi ladang 
mentimun yang lebat buahnya. Raksasapun memakannya. Tapi buah timun itu malah 
menambah tenaga raksasa. Lalu Timun Emas menaburkan jarum, dalam sekejap tumbuhlah 
pohon-pohon bambu yang sangat tinggi dan tajam. Dengan kaki yang berdarah-darah 
raksasa terus mengejar. Timun Emaspun membuka bingkisan garam 

dan ditaburkannya. Seketika hutanpun menjadi lautan luas. 
Dengan kesakitan raksasa dapat melewatinya. Yang 
terakhir Timun Emas akhirnya menaburkan terasi, seketika 
terbentuklah lautan lumpur yang mendidih, akhirnya 
raksasapun mati. "Terimakasih Tuhan, Engkau telah 
melindungi hambamu ini" Timun Emas mengucap syukur. 
Akhirnya Timun Emas dan Mbok Sirni hidup bahagia dan 
damai.

                                

0 komentar

Posting Komentar